Tampilkan postingan dengan label Karangan Narasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karangan Narasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Keluarga Saya yang Aneh


          Adik berlari-larian di halaman rumah. Saya merasa khawatir ketika ia berlari sambil berteriak-teriak, maka saya memanggilnya untuk masuk ke rumah. Ketika adik telah berada di dalam rumah, ia kembali berlari-larian sehingga menabrak lemari dan menjatuhkan buku-buku yang ada di lemari. Ibu yang mendengar suara barang jatuh segera menghampiri kami, wajah ibu terlihat seperti petir yang menyambar rumah kami.
          Ayah pulang dari kantor, melihat kejadian ini ia marah-marah lalu memukul adik. Saya mondar-mandir karena bingung harus berbuat apa. Adik merasa sakit ketika dipukul ayah, lalu ia menangis. Saya sedih melihat adik dipukul ayah, lalu saya juga menangis. Ayahpun ikut menangis karena merasa bersalah telah memukul adik.
          Ibu menghibur kami dengan tarian yang lucu-lucu. Tarian ibu bagaikan ombak laut yang tertiup angin. Melihat tarian ibu, kami langsung tertawa terbahak-bahak. Saya benar-benar beruntung memiliki keluarga seperti yang saya miliki saat ini.



                                                                                    Fara Alicia Dienswari (X8-12)

Narasi


Keluargaku yang Harmonis

Siang itu ayah sedang Memukul-mukul meja yang rusak untuk diperbaiki. Sedangkan ibu sedang memasak sayur-mayur yang debelinya tadi pagi. Aku membantu ayah membetulkan meja yang rusak. Tanpa disadari saudara-saudaraku dating ke rumah. Melihat ibu kami yang sedang kerepotan menyiapkan makan siang, akhirnya adik perempuanku membantu mengambilkan piring-piring. Seakan lengketnya piring-piring itu di tangan adikku.Benar-benar keluarga yang harmonis.

Piring-piring yang telah terisi berbagai jenis makanan membuatku semakin lapar. Tanpa basa-basi langsung saja kusantap bersama keluarga dan saudara-saudara. Sayur-mayur yang tadinya penuh di magkuk lama-kelamaan semakin habis. Sungguh penuh perutku yang sudah terisi berbagai jenis makanan. Langsung saja aku keluar rumah untuk mencari udara segar setelah aku makan.


Aku duduk santai di kursi depan rumah. Udara yang sejuk dan berhembus kesana – kemari menambah nyaman duduk santaiku. Tak lama kemudian ayahku menyusul dan duduk disampingku. Ayah yang bercerita tentang masalalunya dengan ibu membuatku sering tertawa. Semakin lama semakin lelah saja tubuhku dan aku bergegas untuk beristirahat.


                                                                                                            Wisnu Christiawan
                                                                                                           
                                                                                                            X-8/32

Jumat, 21 Oktober 2011

Maman atau Mimin ya?

D
ebora melihat kupu-kupu di taman yang sedang berputar-putar di atas bunga mawar. Dia hanya mengamati tingkah laku kupu-kupu itu yang bolak-balik mencari madu. Lalu, kupu-kupu itu hinggap pada salah satu bunga mawar merah. Angin sepoi menerpa bunga mawar itu dan daun-daun keringnya berguguran. Angin seakan membelai rambut Debora yang tengah termenung sore itu. Walau diterpa angin, kupu-kupu itu masih saja hinggap di atas bunga seakan berpegangan dengan sekuat-kuatnya. ”Corak ungunya indah sekali, belum pernah aku melihat yang seperti itu”,pikir Debora.
          Debora masih duduk-duduk di kursi taman dan masih memikirkan persoalan yang tengah terjadi dalam hidupnya. Walau di tengah keramaian dan orang-orang sibuk berlalu lalang, entah hanya untuk melihat-lihat keindahan taman atau bersantai, ia masih merasa sepi. Dalam hatinya, ia berpikir, “Manakah yang harus aku pilih? Haruskah aku memilih Maman?Ataukah Mimin kembarannya?”
          Debora masih berpikir terus-menerus. Kebisingan kendaraan yang mondar-mandir membuat konsentrasinya semakin pudar. ”Siapa yang pantas yang bisa kuandalkan? Aku tidak membutuhkan rayuan dan pujian-pujian palsu”. Setelah Debora berpikir , akhirnya ia memilih Maman sebagai anggota tugas kelompoknya.



                                                          Nama : Ishug Putri Setia
                                                Kelas / No : X-8 / 19

Kamis, 20 Oktober 2011

PENARI JALANAN JOGJA | Achmad Fikri Syarif X8/01

Mereka menari-nari seperti orang gila ketika kami lewat disana. Para pejalan kaki mondar-mandir melihat tingkah laku mereka. Tepat di lingkungan angkringan Jogja yang tak pernah sepi. Orang-orang, pasti berfikir bahwa mereka sudah gila. Dengan lihai mereka mempertunjukan atraksi atraksi spektakuler seperti sedang menari diatas ombak. Benar-benar pengalaman yang mungkin tidak akan kami dapatkan dimana saja. Apalagi mereka juga memiliki kemampuan yang memadai.
Pakaian para penari jalanan ini tidak serumit para penari biasanya , hanya dengan kemeja kotak-kotak dan celana hitam pendek. Tak heran jika kini mereka menjadi hiburan para penikmat angkringan Jogja. Ternyata penari-penari itu juga mencari nafkah dari tariannya. Setelah penampilannya usai , salah satu dari penari menjulurkan topinya. Tidak lain untuk merayu penonton memberikannya uang.
Setelah merasa cukup dengan uang yang diberikan penonton , mereka tidak hentinya menampilkan aksi yang memukau. Para penonton bersorak-sorai ketika penari itu memainkan kakinya seperti penari hip-hop. Dengan irama yang sama , beberapa penonton mulai masuk ke dalam arus music yang dimainkan penari jalanan tersebut. Sadar atau tidak , ini adalah bakat terpendam para pemuda Jogja yang dimulai dari bawah. Mereka menghibur , mencari nafkah, dan mencari rahmat Illahi.

Senin, 26 September 2011

Pentas Seni Kampung Karang Taruna




            Tini berlari-lari bersama Tono di depan teras. Setelah itu ada siswa-siswi yang melewati rumah mereka. Lalu Tini dan Tono menari-nari untuk menarik perhatian mereka. Siswa-siswi tersebut pun tertegun melihat tingkah Tini dan Tono. Lalu terdengar suara Ambulan yang menari-nari ditengah suasana tersebut yang membuat mereka kebingungan. Tini dan Tono menyapa para siswa-siswi tersebut ternyata mereka memiliki sifat yang baik-baik , ramah. Lalu dengan sigap mereka menangkap sosok ibu-ibu yang dating ke arah mereka.

            Sore pun tiba, akhirnya Tini dan Tono pulang. Sampai rumah Tono memberi makan kelinci-kelinci yang dibelinya tiga bulan yang lalu. Sedangkan Tini memberi makan  ikan-ikan yang terdapat di ruang tengah. Setelah itu, ibu mereka memanggil Tini dan Tono untuk makan. Mereka pun makan dengan lahap karena mereka belum makan sejak tadi siang.

            Tini dan Tono segera meninggalkan meja makan ketika seseorang mengetuk pintu degan hati-hati. Tini bergegas menuju ruang tamu, dan ketika pintu terbuka, salah seorang rombongan siswa-siswi itu berada di depan pintu.Aldo, si tamu itu, ingin mengajak Tini dan Tono untuk bermain dalam pentas seni kampung yang diselenggarakan pemuda-pemudi karang taruna dalam menyambut peringatan 17 Agustus. Mereka menyanggupinya, ketika pada saat yang bersamaan suara adzan Maghrib mengalun lembut dari Mushola Al-Ikhlas. Aldop pun pamit, dan mereka tidak sabar untuk mengikutinya

Jumat, 23 September 2011

Adik Nakal

               Adik menendang-nendang kursi karena marah. Ia marah karena dipaksa membeli sayur-mayur. Akhirnya Ia bersembunyi ke kamar dan bersembunyi di dalam almari.Pintu almari ditutupnya rapat-rapat Kain-kain di almari seakan memeluk adik dengan erat. Adik benar-benar nyaman di sana.
               Ayah memanggil-manggil adik tetapi tidak ada jawaban.Akhirnya ayah mencari ke kamar.Sesampai dikamar, ternyata pintu kamar terkunci. Ayah pun memutuskan untuk mendobrak pintu. Setelah pintu terbuka ternyata adik tak ada. Ayah mencarinya dengan teliti, setelah beberapa lama ayah menemukan adik.
                Ayah lalu mengajak adik keluar dari kamar. Ayah memarah-marahi adik dengan suara keras. Adik pun menjadi menangis.Ayah mencoba menenangkan, tetapi adik menangis semakin keras. Sejak saat itu adik dipanggil Adik Nakal


              

Agung Nugroho
03
x-8

Kamis, 22 September 2011

Dari Olahraga Menuju CInta

Pada saat pelajaran olahraga, pak guru menyuruh kami berlari-lari mengelilingi lapangan. Sedangkan pak guru mondar-mandir untuk mengambil mengambil daftar nilai dan bola basket. Hari ini akan dilakukan penilaian bola basket, namun sebelumnya kamu berlari-lari sebagai pemanasan. Ada murid-murid kelas lain yang melihat kami berolahraga. Pagi hari ini kami berolahraga ditemani  semilir angin yang berhembus mesra, benar-benar kondisi yang membuat kami semangat untuk berolahraga. Angin tersebut membuat rambut para gadis menjadi berterbangan, para gadis terlihat sangat cantik-cantik. Mata saya tertuju pada seorang gadis cantik berambut panjang.
                Hati saya berdegub sangat kencang. Angin membuat rambut gadis itu menari-nari di udara. Gadis itu melihat-lihat sekeliling untuk mencari teman-temannya. Namun hanya saya yang berdiri didekatnya. Akhirnya kami mengobrol dan mulai berkenalan, karena status kami memang masih sebagai murid baru.
                Pertemanan kami semakin akrab, saya dan Ani, si gadis itu mulai berjalan-jalan mengitari lapangan sekolah. Saya melihat Ani mondar mandir di tengah lapangan dengan hati yang gugup. Begitu terkejutnya saya ketika suara merdu gadis itu terucap “aku cinta kamu”. Rasa gugup pun melanda diri saya, ketika menjawab,”aku cinta kamu juga, Ani”. Setelah sekian lama saya menunggu, akhirnya saya bisa mendapatkan kekasih yang cantik.

INNA ZULFA K
X8/18

Ada Udang Di Balik Batu, Ada Cinta Di Balik Masalah

              Budi mengetuk-ngetuk pintu rumah Susi sejak dua menit yang lalu, selama itu pula tak ada yang menyahut. Diabolak-balik di depan teras dan berpikir keheranan mengapa Susi tidak ada. Ternyata Susi masih tidur terlelap di kamarnyaBerjam-jam Budi menunggu dan terus menunggu, semuanya sia-sia. Dirinya bagaikan patung bergerak, kadang bergerak kadang diam terpaku, dan akhirnya pulang dengan rasa kecewaSelembut-lembutnya Budi, ia pun bisa marah, tanpa menimbulkan hasrat dendam dalam hatinya. Selain karena dendam itu dilarang, ia jatuh cinta pada gadis berparas cantik dan berlesung pipit itu.
        Keesokan harinya, seperti biasa Susi dan temannya berangkat ke sekolahMobil-mobil angkota seperti biasa berjajar di tepi Jalan Ir. H. Juanda. Mereka masuk ke dalam angkota, dan bertemu Budi serta teman-teman sekelasnya. Budi dan Susi ternyata duduk bersebelahan. Susi segera meminta maaf kepada Budi karena tidak menepati janjinya. Budi dan Susi bermaaf-maafan. Mereka pun akhirnya kembali seperti semula lagi. Setelah keluar dari angkota mereka bergegas menuju ke kelas, dan lima menit kemudian bel pun berbunyi. Pelajaran pun dimulai. Pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia. Mereka menjadi seperti dulu lagi, sebelum ada rasa kecewa.

A. Glenn S. X8/06